Showing posts with label Kanker usus besar. Show all posts
Showing posts with label Kanker usus besar. Show all posts

Tuesday, August 21, 2012

Ini Penyebab Kanker Usus Besar

BUAH dan sayuran mempunyai manfaat sangat besar buat tubuh. Tidak hanya melancarkan buang air besar, tetapi menjauhkan diri dari kanker usus besar.

Serat dalam buah dan sayur, serta kecukupan mineral dalam tubuh membuat buang air besar normal. Normalnya, setiap hari seseorang membuang air besar satu kali sehari.

"Beberapa gangguan kesehatan timbul karena tidak tertib buang air besar. Sekurang-kurangnya satu kali sehari wajib dilakukan. Tinja itu ampas sisa pembakaran tubuh yang tak berguna disimpan lama di usus," tutur Dr. Handrawan Nadesul dalam bukunya "Jurus Sehat Tanpa Ongkos".

Tinja yang lama terendap di dalam tubuh akan semakin mengeras. Hal tersebut meningkatkan potensi terjadinya kanker usus besar.

"Sehari tinja tidak dikeluarkan akan semakin mengeras karena airnya terus diserap tubuh. Semakin lama tertahan di usus, tinja semakin mengeras. Penyebab kanker usus besar tumbuh karena tinja berlama-lama tertahan di usus. Demikian pula kejadian penyakit dinding usus diverticulitis, terbentuk jonjot menonjol dari dinding usus," jelasnya.

Handrawan mengatakan, tinja yang keras menyulitkan pengeluarannya sehingga diperlukan mengedan lebih lama dan lebih kuat. Kebiasaan mengedan keras setiap kali buang air besar berakibat terbendungnya pembuluh darah liang dubur. Hal itu merupakan awal dari wasir (haemorrhoid).

“Dengan pengaruh hormon estrogen, wanita lebih sering sembelit dibanding pria. Agar lancar buang air besar setiap hari, selain menu sayur-mayur dan buah, Anda cukup bergerak badan dan air minum juga,” tutupnya.

Sumber : http://health.okezone.com/


Baca artikel selengkapnya .......

Thursday, September 8, 2011

Dikira Sakit Maag, Ternyata Kena Kanker Usus Besar

Jakarta, Abdullah tidak menyangka bahwa rasa perih di perut yang dialaminya selama 2 bulan merupakan gejala awal dari kanker usus besar. Semula ia hanya mengira dirinya terkena penyakit maag.

"Awalnya saya kira sakit maag, karena kalau malam terasa perih. Tapi setelah diberikan obat maag tidak juga sembuh," ujar Abdullah Al Juffry dalam acara Patient Gathering Sanofi Aventis 'Kanker Usus Besar Bisa Dicegah' di Hotel Sahid Jaya, Sabtu (14/5/2011).

Kondisi itu ia alami sejak Juni 2001. Setelah 2 bulan tidak juga ada kesembuhan maka sang kakak menganjurkan Abdullah untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut yaitu CT-scan. Ternyata diketahui adanya hambatan di usus besarnya dan pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan adanya kanker usus besar.

"Saat didiagnosis kanker usus besar saya merasa dunia seperti runtuh, mau kiamat. Semua anggota keluarga juga kaget," ungkap pria yang dulu bekerja sebagai praktisi perbankan.

Dokter langsung memutuskan untuk melakukan operasi guna membuang usus yang terkena kanker. Abdullah mencoba untuk menundanya tapi dokter mengungkapkan bahwa usus tersebut harus segera diangkat agar tidak menyebar ke tempat yang lain.

Dua hari setelah dinyatakan terkena kanker usus besar stadium 2B, Abdullah langsung menjalani operasi. Usus yang dipotong dalam operasi itu sekitar 40 cm, hal ini untuk mencegah adanya sel-sel kanker yang menyebar.

"Waktu operasi ternyata di luar dugaan, sakitnya luar biasa. Karena awalnya dokter hanya bilang nanti ususnya yang dipotong disini trus disambung lagi dan sepertinya tidak sakit," ujarnya.

Sekitar 1-2 bulan setelah operasi, Abdullah harus menjalani kemoterapi yang ternyata efeknya jauh lebih dahsyat dibanding saat ia dioperasi. Ia menuturkan rasanya tidak jelas, kalau efek samping dari rontok-rontok itu biasa, ia bahkan sempat sulit untuk berjalan, sulit makan, minum hanya bisa setetes-setetes.

"Support dari keluarga, dukungan dan doa dari orang-orang yang menjenguk itu adalah yang utama. Selain itu keyakinan bahwa ada yang lebih parah dari saya tetap bisa survive, maka itu yang membuat saya yakin," ungkap bapak dari 2 putra dan 1 putri ini.

Abdullah harus menjalani kemoterapi sebanyak 12 kali yang ia lakukan lebih dari setahun, hal ini karena untuk melakukan kemoterapi yang selanjutnya harus menunggu kondisinya membaik terlebih dahulu seperti melihat nilai Hb dan trombositnya.

Setelah operasi dan serangkaian kemoterapi yang ia jalani, Abdullah kembali melakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan ulang cukup menggembirakan. Ia dinyatakan negatif terhadap sel-sel tumor.

Namun ia tetap harus melakukan kontrol atau pemeriksaan setiap 6 bulan, lalu meningkat setahun sekali dan sekarang setelah hampir 10 tahun berlalu ia hanya diharuskan untuk kontrol setiap 2 tahun sekali.

Sebelum didiagnosis terkena kanker usus besar, ia terbilang cukup aktif melakukan olahraga seperti renang dan jogging serta sering mengonsumsi sayur-sayuran. Tapi diakui ia memang perokok, dulu ia bisa menghabiskan satu bungkus rokok dalam sehari.

Selain itu dalam riwayat keluarganya juga diketahui ada yang terkena kanker usus besar, yaitu paman dari bapaknya. Kondisi ini yang kemungkinan menjadi faktor risiko dari kanker usus besar.

"Setelah usus saya dipotong dan menjalani kemoterapi dampaknya tidak terlalu besar, hanya sekarang jadi sering buang air besar. Kalau kata orang karena ususnya sudah pendek," ujarnya sambil tertawa.

Abdullah kini terlihat sehat dan bugar dan sudah bisa kembali beraktifitas dengan bekerja sebagai seorang konsultan. Hal ini menunjukkan jika kanker dapat dideteksi lebih dini dan melakukan pengobatan dengan baik, maka peluang kesembuhannya akan lebih besar.

Gejala yang muncul dari kanker usus besar umumnya adalah:
1. Perdarahan pada usus besar yang ditandai dengan adanya darah pada feses saat buang air besar
2. Perubahan pola buang air besar seperti menjadi keras, lembek atau kotorannya kecil-kecil
3. Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
4. Rasa sakit di perut atau bagian belakang
5. Perut masih terasa penuh meski sudah buang air besar
6. Kadang muncul beberapa gejala umum seperti sembelit, rasa sakit atau kembung di perut

Sumber : http://www.detikhealth.com/read/2011/05/15/080734/1640038/763/dikira-sakit-maag-ternyata-kena-kanker-usus-besar


Baca artikel selengkapnya .......

Tuesday, September 6, 2011

Deteksi Dini Kanker Usus Besar

Resiko terserang kanker Usus Besar (Kanker Colon) menjadi semakin tinggi dengan bertambahnya usia seseorang . Pada umumnya dunia kedokteran, berdasarkan data-data statistik, berpendapat ancaman terserang Kanker Usus Besar mulai terjadi pada usia 40 tahun keatas terutama bagi yang hidup dengan pola makan kehidupan modern.

Dengan meningkatnya usia seseorang ancaman terserang kanker tersebut menjadi bertambah pula.

Pada saat sekarang terdapat cara yang canggih yang dapat mendeteksi bahaya serangan Kanker Usus Besar secara dini dengan tindakan Kolonoskopi.

Dengan menggunakan alat Colonoscope, seorang Dokter Ahli dapat memeriksa seluruh dinding Usus Besar dengan teliti untuk mendeteksi adanya tumor ataupun polip yang bila dibiarkan dengan berjalannya waktu bisa berubah menjadi tumor ganas (Kanker). Di negara-negara maju pemeriksaan Kolonoskopi ini sangat dianjurkan sebagai bagian dari uji kesehatan (Check Up) untuk yang berusia diatas 40 tahun dan terutama yang berusia lebih dari 50 tahun untuk dilakukan setiap 3-5 tahun sekali. Dengan dapat terdeteksi secara dini, dapat diambil tindakan sebelum tumor ganas tersebut menyebar yang dapat membahayakan kehidupan seseorang (kematian), karena seperti diketahui, biasanya apabila keluhan telah timbul dan dirasakan oleh seseorang, tumor telah berada pada fase lanjut dan sulit disembuhkan.

Sebaiknya apabila adanya tumor ganas dapat dideteksi pada fase dini, biasanya nyawa penderita dapat diselamatkan dengan tindakan operasi maupun dengan pengobatan lainnya.

Apa Yang Dimaksud Dengan Kolonoskopi?
Kolonoskopi adalah tindakan untuk memeriksa Saluran Usus Besar dengan menggunakan peralatan canggih berupa Lensa Serat Optik yang sangat lentur yang dimasukkan melalui anus (dubur) sampai menjangkau Usus Besar. Gunanya terutama untuk memeriksa keadaan dinding Usus Besar dari bahaya adanya Polip atau kelainan yang dicurigai sebagai keganasan.

Persiapan Yang Harus Dilakukan ?
Untuk mendapatkan hasil yang akurat maka Usus Besar harus dibersihkan dari sisa makanan sebelum tindakan. Sehari sebelum tindakan Dokter akan memberikan instruksi mengenai jenis dan jumlah makanan yang boleh dikonsumsi agar dapat membantu pembersihan saluran Usus Besar. Untuk membersihkan saluran Usus Besar, Anda akan diinstruksikan untuk minum larutan pencuci perut pada sore hari dan malam hari sebelum pemeriksaan. Patuhi instruksi tersebut secara cermat karena prosedur akan ditunda atau harus diulang apabila Usus Besar tidak bersih. Kolonoskopi biasanya tidak menyebabkan rasa sakit. Pada saat tindakan, Dokter biasanya memberikan obat suntikan untuk relaksasi untuk mengurangi rasa tidak menyenangkan selama tindakan, yang kadang-kadang hanya berupa rasa kembung, tekanan di perut atau kram perut ringan.

Bagaimana Pemeriksaan Dilakukan?
Anda akan diinstruksikan untuk berbaring telentang atau menghadap kesamping. Lensa Serat Optik akan dimasukkan perlahan-lahan kedalam Usus Besar melalui anus (dubur). Bagian dalam saluran Usus Besar akan terpantau secara jelas dan cermat oleh kamera pada ujung Serat Optik yang akan menyalurkan gambar hasil pemeriksaan ke layar monitor untuk dianalisa oleh Dokter dan gambar dapat direkam dalam rekaman Video Tape. Prosedur ini biasanya memakan waktu kurang lebih 20 menit atau bisa lebih apabila dilanjutkan dengan tindakan pengangkatan Polip. Apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya Polip atau bagian Usus Besar yang harus diperiksa lebih detail, maka Dokter akan melakukan pengambilan Polip atau contoh jaringan pada bagian yang dicurigai adanya kelainan tersebut, dengan menggunakan alat yang sama. Contoh jaringan, selanjutnya akan diperiksa di laboratorium Patologi - Anatomi untuk menentukan ada tidaknya sel-sel ganas.

Apa Yang Disebut Polip Dan Mengapa Harus Dikeluarkan?
Polip adalah pertumbuhan abnormal dari bagian Usus Besar yang bentuk dan ukurannya bermacam-macam. Sebagian besar Polip Usus Besar adalah jinak tetapi hal ini tidak dapat ditentukan dari penampakan luar saja melainkan harus diangkat dan diperiksa secara Patologi-Anatomi di Laboratorium. Polip Usus Besar yang dibiarkan dalam waktu lama dapat berubah menjadi sel sel ganas (Kanker) yang jika tidak diketahui secara dini, dapat menjadi fatal bagi pasien (meninggal karena Kanker). Apabila dalam pemeriksaan di Laboratorium Patologi-Anatomi ternyata ada sel-sel ganas, maka dapat secepatnya dilakukan operasi pengangkatan bagian Usus Besar yang telah terserang sel sel ganas (Kanker).

Apa Yang Dilakukan setelah Kolonoskopi?
Setelah tindakan Kolonoskopi dilakukan, pasien perlu berbaring/ istirahat sekitar 1 jam untuk menghilangkan pengaruh obat penenang yang telah diberikan. Dianjurkan agar pasien waktu pulang tidak sendiri, sebaiknya ditemani anggota keluarga atau orang lain, terutama jangan mengemudikan kendaraan bermotor dalam waktu 4 jam setelah tindakan Kolonoskopi.

Umumnya Anda bisa segera makan setelah 2 jam kemudian. kemungkinan Dokter akan membatasi aktifitas Anda dan mengatur diet Anda apabila saat dilaksanakan tindakan Kolonoskopi juga dilakukan pengangkatan jaringan atau Polip (Polipektomi). Hasil pemeriksaan akan diterangkan oleh Dokter kepada Anda secara jelas dengan menggunakan foto atau hasil rekaman Video Tape.

Kemungkinan Komplikasi Kolonoskopi
Tindakan Kolonoskopi adalah prosedur yang aman apabila dilakukan oleh Dokter yang sudah mendapatkan pelatihan khusus dan sudah berpengalaman melakukan tindakan Kolonoskopi. Komplikasi jarang sekali terjadi kecuali dalam tindakan pengambilan Polip atau contoh jaringan usus Besar yang dicurigai, bisa terjadi pendarahan kecil yang biasanya berhenti setelah beberapa saat.

Dimana Anda bisa melaksanakan Pemeriksaan Kolonoskopi?
Anda tidak perlu membuang waktu untuk berobat ke Luar Negeri, karena sarana yang ada di RS Medistra dan Dokter Spesialis Gastro Enterologi (Saluran Cerna) di RS Medistra yang berpengalaman dan dikenal di dalam dan di luar negeri akan membantu Anda dengan ketepatan diagnosa dan terapi.

Sumber : http://www.medistra.com/index.php?option=com_content&view=article&id=77


Baca artikel selengkapnya .......

Monday, June 20, 2011

Kanker Usus Gejala Dan Pencegahannya

Sakit perut. Itulah keluhan yang kerap dirasakan Prasetyo, 45 tahun, selama tiga tahun sebelum akhirnya divonis menderita kanker kolorektal (usus besar).

Awalnya, dia dinyatakan dokter menderita radang usus, sehingga hanya diberi obat antiradang, penghilang rasa sakit, dan antibiotik. Namun, obat-obatan itu tak pernah mampu menghilangkan keluhannya secara tuntas. Alhasil, sakit perut itu berulang, dan selalu berulang. Sampai suatu ketika, ia merasakan sakit yang hebat di perutnya.

Prasetyo pun kembali ke dokter. Kali ini, dokter mengatakan, ada perlengketan di usus besarnya sehingga harus dilakukan pembedahan. Sebagian usus besarnya pun dipotong. Selesai masalah? Ternyata tidak. Prasetyo yang perokok berat ini masih sering merasakan sakit di perut. Tubuhnya pun makin kurus, dan kerap mengalami diare. Penyebab dari sakit perut itu akhirnya diketahui lewat pemeriksaan di sebuah rumah sakit besar di Bandung. Kanker dipastikan telah bersarang di usus besar Prasetyo, dan telah mencapai stadium IV. Empat bulan setelah mendengar vonis ini, Prasetyo berpulang untuk selama-lamanya.

Kanker usus besar adalah salah satu jenis kanker yang cukup sering ditemui, utamanya pada pria dan wanita berusia 50 tahun atau lebih. Pada pria, kanker usus besar menempati urutan ketiga sebagai kanker tersering yang ditemui setelah kanker prostat dan paru-paru. Sementara pada wanita, kanker ini pun menempati urutan ketiga setelah kanker payudara dan paru-paru. ”Dari berbagai laporan, di Indonesia terdapat kenaikan jumlah kasus (kanker usus besar), meskipun belum ada data yang pasti. Data di Departemen Kesehatan didapati angka 1,8 per 100 ribu penduduk,” tutur dokter Adil S Pasaribu, SpB KBD, spesialis bedah dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta.

Kanker usus besar adalah tumbuhnya sel kanker yang ganas di dalam permukaan usus besar atau rektum. Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau adenoma, yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat).

Pada stadium awal, adenoma dapat diangkat dengan mudah. Hanya saja pada stadium awal ini, seringkali adenoma tidak menampakkan gejala apapun, sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relatif lama. Padahal, adenoma yang awalnya tak menimbulkan keluhan apapun ini, pada suatu saat bisa berkembang menjadi kanker yang menggerogoti semua bagian dari usus besar.

Gejala awal yang tidak khas ini membuat banyak penderita kanker usus besar datang ke rumah sakit ketika perjalanan penyakit sudah demikian lanjut. Upaya pengobatan pun menjadi sulit. Padahal, seperti dikatakan Ketua Perhimpunan Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, dokter Aru Sudoyo SpPD KHOM, kunci utama keberhasilan penanganan kanker usus besar adalah ditemukannya kanker dalam stadium dini, sehingga terapi dapat dilaksanakan secara bedah kuratif. Sayangnya, hal seperti ini sangat jarang. Yang kerap terjadi adalah kasus seperti dialami Prasetyo, yakni kanker ditemukan pada stadium lanjut, sehingga harapan penderita untuk bertahan hidup menjadi sangat kecil.

Jika kanker usus besar ditemukan pada stadium I, peluang penderita untuk hidup hingga lima tahun mencapai 85-95 persen. Sementara bila ditemukan pada stadium II, peluang itu mencapai 60-80 persen, pada stadium III sekitar 30-60 persen, dan stadium IV sekitar 25 persen. ”Ini artinya, bila ada 100 penderita kanker usus besar stadium IV, maka yang masih hidup sampai lima tahun hanya lima orang,” ucap Aru.

Deteksi dini

Untuk menghindari kemungkinan terburuk, seperti dialami Prasetyo, deteksi dini merupakan hal yang sangat penting. ”Deteksi dini atau skrining terhadap kanker ini, dapat menyelamatkan hidup,” tegas Adil.

Dengan deteksi dini dapat ditemukan adanya polip prakanker, yaitu suatu pertumbuan abnormal pada usus besar atau rektum yang dapat segera dibuang sebelum berubah menjadi kanker. ”Jika semua orang yang berumur 50 tahun atau lebih melakukan skrining secara teratur, maka sebanyak 60 persen kematian akibat kanker kolorektal dapat dihindari,” tuturnya.

Deteksi dini adalah investigasi pada individu asimtomatik (tanpa gejala) yang bertujuan untuk mendeteksi adanya penyakit pada stadium dini sehingga dapat dilakukan terapi kuratif. Secara umum, urai Adil, deteksi dini dapat dilakukan pada dua kelompok, yaitu populasi umum dan kelompok risiko tinggi. Deteksi dini pada kelompok populasi umum dilakukan kepada individu yang berusia di atas 40 tahun. Sedangkan mereka yang tergolong kelompok berisiko tinggi, antara lain adalah mereka yang pernah menjalani polipektomi untuk adenoma di usus besar, dan orang-orang yang berasal dari keluarga dengan riwayat penyakit ini.

Terkait dengan riwayat keluarga, Anda tak perlu khawatir berlebihan jika berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kanker usus besar. Menurut Adil, faktor genetik memang bisa menjadi penyebab munculnya penyakit ini, tapi faktor tersebut bisa dipersempit. Caranya, ubahlah pola makan Anda dan lakukan deteksi dini.

Penyebab dan gejala

Sejauh ini, penyebab kanker usus besar memang belum diketahui secara pasti. Hanya saja, ada beberapa hal yang diduga kuat berpotensi memunculkan penyakit ganas ini, yaitu: cara diet yang salah (terlalu banyak mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan protein, serta rendah serat), obesitas (kegemukan), pernah terkena kanker usus besar, berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kanker usus besar, pernah memiliki polip di usus, umur (risiko meningkat pada usia di atas 50 tahun), jarang melakukan aktivitas fisik, sering terpapar bahan pengawet makanan maupun pewarna yang bukan untuk makanan, dan merokok.

Dalam buku Panduan Pengelolaan Adenokarsinoma Kolorektal disebutkan bahwa meskipun penelitian awal tidak menunjukkan hubungan merokok dengan kejadian kanker usus besar, namun penelitian terbaru menunjukkan, perokok jangka lama (30-40 tahun) mempunyai risiko berkisar 1,5-3 kali. Diperkirakan, satu dari lima kasus kanker usus besar di Amerika Serikat bisa diatributkan kepada perokok. Penelitian kohort dan kasus-kontrol dengan desain yang baik menunjukkan, merokok berhubungan dengan kenaikan risiko terbentuknya adenoma dan juga kenaikan risiko perubahan adenoma menjadi kanker usus besar. ”Karena itu untuk mencegah kejadian kejadian kanker usus besar dianjurkan untuk tidak merokok,” kata Aru.

Mengenai gejala kanker usus besar, Aru menyebut beberapa hal yang kerap dikeluhkan para penderita, yaitu:
* Perdarahan pada usus besar yang ditandai dengan ditemukannya darah pada feses saat buang air besar.
* Perubahan pada fungsi usus (diare atau sembelit) tanpa sebab yang jelas, lebih dari enam minggu.
* Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
* Rasa sakit di perut atau bagian belakang.
* Perut masih terasa penuh meskipun sudah buang air besar.Rasa lelah yang terus-menerus
* Kadang-kadang ordering prescription drugs online without a prescription kanker dapat menjadi penghalang dalam usus besar yang tampak pada beberapa gejala seperti sembelit, rasa sakit, dan rasa kembung di perut.

Untuk menangani kanker usus besar, menurut Aru, terapi bedah merupakan cara yang paling efektif, utamanya bila dilakukan pada penyakit yang masih terlokalisir. Namun, bila sudah terjadi metastasis (penyebaran), penanganan menjadi lebih sulit. Tetapi, dengan berkembangnya kemoterapi dan radioterapi pada saat ini, memungkinkan penderita stadium lanjut atau pada kasus kekambuhan untuk menjalani terapi adjuvan. Terapi adjuvan adalah kemoterapi yang diberikan setelah tindakan operasi pada pasien kanker stadium III guna membunuh sisa-sisa sel kanker.

Saat ini, terapi adjuvan bisa dilakukan tanpa suntik (infus), melainkan dengan oral/tablet (Capacitabine). Ketersediaan capacitabine tablet memungkinkan pasien untuk menjalani kemoterapi di rumah yang tentu saja efektivitasnya lebih baik. ”Capacitabine juga merupakan kemoterapi oral yang aman dan bekerja sampai ke sel kanker,” kata Aru yang juga menjabat sebagai ketua Komisi Terapi Adjuvan, Kelompok Kerja Adenokarsinoma Kolorektal Indonesia.

Jurus Menangkal Kanker Usus Besar

Mencegah jauh lebih baik ketimbang mengobati. Hal itu juga berlaku pada kanker usus besar. Agar tak sampai terjamah penyakit mematikan ini, lakukan upaya pencegahan. Simak tips pencegahan dari dokter Adil S Pasaribu SpB KBD berikut ini:
* Hindari makanan tinggi lemak, protein, kalori, serta daging merah. Jangan lupakan konsumsi kalsium dan asam folat.Setelah menjalani polipektomi adenoma disarankan pemberian suplemen kalsium.
* Disarankan pula suplementasi vitamin E, dan D.
* Makan buah dan sayuran setiap hari.
* Pertahankan Indeks Massa Tubuh antara 18,5 – 25,0 kg/m2 sepanjang hidup.
* Lakukan aktivitas fisik, semisal jalan cepat paling tidak 30 menit dalam sehari.
* Hindari kebiasaan merokok.Segera lakukan kolonoskopi dan polipektomi pada pasien yang ditemukan adanya polip.
* Lakukan deteksi dini dengan tes darah samar sejak usia 40 tahun.

source : litbang.depkes.go.id

Read more: http://doktersehat.com/2009/05/14/kanker-usus-gejala-dan-pencegahannya/


Baca artikel selengkapnya .......
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP