Showing posts with label Tipes atau Typhus. Show all posts
Showing posts with label Tipes atau Typhus. Show all posts

Friday, June 15, 2012

Salah Kaprah Soal Tipes

Ketika mengalami demam tinggi yang tidak turun beberapa hari, mungkin Anda menebak kena tipes. Masalahnya, masih sering terjadi salah kaprah tentang penyakit tipes. Mulai dari penyebab, obat, bahkan namanya. Akibatnya, penanganan yang dilakukan jadi tak sesuai. Untuk meluruskan hal ini, simak tanya jawab seputar tipes bersama spesialis penyakit tropis, dr. Widayat Djoko, SpPD, KPTI, dari RSCM Jakarta.

MENGAPA TIPES, BUKAN TIFUS?
Tipes atau demam tifoid (typhoid fever) adalah penyakit yang disebabkan bakteri Salmonella tifosa. Penyakit ini bisa menyerang melalui makanan atau minuman yang menyebabkan infeksi usus halus. Lewat peredaran darah, bakteri terbawa sampai di organ tubuh, terutama hati dan limpa, masuk kembali ke dalam peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Akibatnya, usus terluka (tukak) dan menyebabkan perdarahan dan kebocoran usus. Banyak orang menyebut penyakit ini tifus. Padahal, tipes dan tifus adalah dua penyakit berbeda. Tifus adalah infeksi yang ditularkan oleh tikus yang menyebabkan demam dan ruam. Penyebab tifus adalah parasit, bukan bakteri. Agar tidak salah penyebutan lagi, sebaiknya mulai sekarang penyakit tipes kita sebut demam tifoid.

BEDANYA DARI DEMAM BERDARAH?
Demam tinggi pada awal penyakit infeksi sering sulit dibedakan. Mungkin karena demam tifoid, DBD, flu, atau infeksi lain. Untuk itu, jika demam tinggi berhari-hari sebaiknya lakukan tes darah.

Sebagai perbandingan awal, demam DBD umumnya berlangsung sepanjang hari, sedangkan demam tifoid berlangsung cuma sore dan malam hari. Demam tifoid juga menyebabkan nyeri kepala hebat dan biasanya bisa terjadi gangguan kesadaran. Pada DBD terjadi nyeri di ulu hati (termasuk mual pada bagian atas antara pusar dengan ulu hati), sedangkan pada tifoid, perut terasa tidak enak dan mengalami sembelit. Perlu disadari, jika telah didiagnosis DBD dan daya tahan tubuh menurun, Anda juga bisa terkena tifoid, terutama bila Anda tidak menjaga kebersihan makanan.

TERGANTUNG DAYA TAHAN TUBUH
Respons penyakit tergantung dari tiga faktor, yaitu kuman penyebab, daya tahan tubuh, dan lingkungan. Jika daya tahan tubuh menurun, kuman lebih mudah masuk. Jika Anda tinggal di lingkungan yang bisa membuat kuman berkembang biak, ditambah daya tahan tubuh lemah, demam tifoid akan makin cepat muncul.

MENGAPA HARUS MENGONSUMSI MAKANAN LUNAK?
Agar kerja saluran pencernaan tidak terlalu berat. Tidak harus selalu bubur. Daging, telur, ikan, ayam, tahu, tempe, sedikit sayur, dan buah, boleh dikonsumsi. Perbanyak asupan air untuk mencegah dehidrasi akibat demam tinggi dan diare.

BISA KAMBUH?
Bisa. Karena, ada kemungkinan bakterinya belum benar-benar habis tertumpas. Ketika masih ada bakteri dalam tubuh, Anda sudah makan sembarangan lagi dan daya tahan tubuh lemah, bakteri mudah berkembang lagi. Jika sudah sembuh, tiga bulan kemudian Anda dianjurkan melakukan tes urine dan kotoran (feses) untuk mengetahui adakah bakteri yang tertinggal.

Sumber : http://www.femina.co.id/


Baca artikel selengkapnya .......

Friday, November 4, 2011

Kenali Penyebab Tipes !

Penyebab Tipes adalah bakteri yang dikenal dengan nama Salmonella Thypi (S. Thypi) yang menyebabkan penyakit akut berhubungan dengan demam dan gejala-gejala lainnya yang menyertai. Selain itu penyebab penyakit tipes juga dapat disebabkan oleh Salmonella paratyphi, bakteri terkait yang biasanya menyebabkan penyakit yang kurang parah. Bakteri S. Thypi berada dalam air atau makanan oleh operator manusia dan kemudian menyebar ke orang lain di daerah tersebut.

Pada negara-negara maju yang memiliki kesejahteraan kesehatan yang cukup sangat menyarankan jika bepergian ke daerah endemik penyebab penyakit tipes untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan bahkan vaksinasi untuk demam tipes. Hal tersebut masih sangat minim dilakukan oleh negara-negara berkembang termasuk Indonesia dalam menanggulangi merebaknya penyebab tipes.

Penyebaran penyakit tipes di berbagai negara pun sangat mudah untuk di identifikasi. Negara-negara dengan tingkat sanitasi dan lingkungan yang buruk umumnya memiliki prevalensi penyebab penyakit tipes yang tinggi. Sebaliknya, pada negara yang modern dengan tingkat sanitasi dan lingkungan yang bersih umumnya memiliki tingkat prevalensi penyebab sakit tipes yang rendah. Oleh sebab itu, penting sebuah pengelolaan kebersihan negara yang baik dalam menanggulangi penyebaran tipes.
Bagaimana Seseorang Tertular Penyebab Tipes?

Penyebab sakit tipes tertular oleh karena menelan bakteri dalam makanan atau minum minuman yang terkontaminasi. Pasien dengan penyakit akut dapat mencemari pasokan air di sekitarnya melalui tinja yang mengandung konsentrasi tinggi dari bakteri. Sekitar 3% -5% pasien menjadi pembawa (vektor) bakteri setelah penyakit akut. Beberapa pasien menderita penyakit yang sangat ringan yang berlangsung dimana mereka bisa menjadi pembawa pembawa bakteri jangka panjang. Bakteri berkembang biak di kantong empedu, saluran empedu, atau hati dan masuk ke usus. Bakteri penyebab tipes dapat bertahan selama berminggu-minggu dalam air atau limbah kering.

Setelah menelan makanan atau minum minuman yang terkontaminasi, bakteri Salmonella menyerang usus kecil dan memasuki aliran darah sementara. Bakteri yang dibawa oleh sel darah putih di hati, limpa, dan sumsum tulang. Bakteri kemudian masuk melalui sel-sel organ-organ dan masuk kembali ke aliran darah. Pasien mengalami gejala, termasuk demam, ketika organisme berada dalam aliran darah. Bakteri menyerang kandung empedu, sistem empedu, dan jaringan limfatik usus dan berkembang biak dalam jumlah tinggi pada lokasi tersebut. Bakteri masuk ke dalam saluran usus dan dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan klinis di laboratorium, bahkan tak jarang dokter melakukan hal tersebut dalam melakukan penegakan diagnosis.

Peningkatan terjadi pada minggu ketiga dan keempat pada mereka tanpa komplikasi. Sekitar 10% pasien memiliki gejala berulang (kambuh) setelah merasa lebih baik selama satu sampai dua minggu. Kondisi yang sangat umum terjadi kambuh ketika seseorang dirawat dengan diberikan antibiotik.

Sumber : http://turunberatbadan.com/


Baca artikel selengkapnya .......

Monday, January 3, 2011

Mengenal Penyakit Demam Tifoid

Penyakit Demam Tifoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus atau types dalam bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella Typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan. Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa.

Menurut keterangan dr. Arlin Algerina, SpA, dari RS Internasional Bintaro, Di Indonesia, diperkirakan antara 800 - 100.000 orang terkena penyakit tifus atau demam tifoid sepanjang tahun. Demam ini terutama muncul di musim kemarau dan konon anak perempuan lebih sering terserang, peningkatan kasus saat ini terjadi pada usia dibawah 5 tahun.

# Cara Penularan Penyakit Demam Tifoid

Penyakit demam Tifoid ini bisa menyerang saat kuman tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Dan melalui peredaran darah, kuman sampai di organ tubuh terutama hati dan limpa. Ia kemudian berkembang biak dalam hati dan limpa yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.

# Tanda dan Gejala Penyakit Demam Tifoid

Penyakit ini bisa menyerang saat bakteri tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Kemudian mengikuti peredaran darah, bakteri ini mencapai hati dan limpa sehingga berkembang biak disana yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.

Gejala klinik demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang ringan bahkan dapat tanpa gejala (asimtomatik). Secara garis besar, tanda dan gejala yang ditimbulkan antara lain ;

1. Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun menjelang malamnya demam tinggi.
2. Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.
3. Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hatidan limpa, Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.
4. Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).
5. Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing. Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.
6. Pingsan, Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan berbaring tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali terjadi gangguan kesadaran.

# Diagnosa Penyakit Demam Tifoid

Untuk ke akuratan dalam penegakan diagnosa penyakit, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium diantaranya pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan Widal dan biakan empedu.

1. Pemeriksaan darah tepi merupakan pemeriksaan sederhana yang mudah dilakukan di laboratorium sederhana untuk membuat diagnosa cepat. Akan ada gambaran jumlah darah putih yang berkurang (lekopenia), jumlah limfosis yang meningkat dan eosinofilia.
2. Pemeriksaan Widal adalah pemeriksaan darah untuk menemukan zat anti terhadap kuman tifus. Widal positif kalau titer O 1/200 atau lebih dan atau menunjukkan kenaikan progresif.
3. Diagnosa demam Tifoid pasti positif bila dilakukan biakan empedu dengan ditemukannya kuman Salmonella typhosa dalam darah waktu minggu pertama dan kemudian sering ditemukan dalam urine dan faeces.

Sampel darah yang positif dibuat untuk menegakkan diagnosa pasti. Sample urine dan faeces dua kali berturut-turut digunakan untuk menentukan bahwa penderita telah benar-benar sembuh dan bukan pembawa kuman (carrier).

Sedangkan untuk memastikan apakah penyakit yang diderita pasien adalah penyakit lain maka perlu ada diagnosa banding. Bila terdapat demam lebih dari lima hari, dokter akan memikirkan kemungkinan selain demam tifoid yaitu penyakit infeksi lain seperti Paratifoid A, B dan C, demam berdarah (Dengue fever), influenza, malaria, TBC (Tuberculosis), dan infeksi paru (Pneumonia).

# Perawatan dan Pengobatan Penyakit Demam Tifoid

Perawatan dan pengobatan terhadap penderita penyakit demam Tifoid atau types bertujuan menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. Pengobatan penyakit tifus dilakukan dengan jalan mengisolasi penderita dan melakukan desinfeksi pakaian, faeces dan urine untuk mencegah penularan. Pasien harus berbaring di tempat tidur selama tiga hari hingga panas turun, kemudian baru boleh duduk, berdiri dan berjalan.

Selain obat-obatan yang diberikan untuk mengurangi gejala yang timbul seperti demam dan rasa pusing (Paracetamol), Untuk anak dengan demam tifoid maka pilihan antibiotika yang utama adalah kloramfenikol selama 10 hari dan diharapkan terjadi pemberantasan/eradikasi kuman serta waktu perawatan dipersingkat. Namun beberapa dokter ada yang memilih obat antibiotika lain seperti ampicillin, trimethoprim-sulfamethoxazole, kotrimoksazol, sefalosporin, dan ciprofloxacin sesuai kondisi pasien. Demam berlebihan menyebabkan penderita harus dirawat dan diberikan cairan Infus.

# Komplikasi Penyakit Demam Tifoid

Komplikasi yang sering dijumpai pada anak penderita penyakit demam tifoid adalah perdarahan usus karena perforasi, infeksi kantong empedu (kolesistitis), dan hepatitis. Gangguan otak (ensefalopati) kadang ditemukan juga pada anak.

# Diet Penyakit Demam Tifoid

Penderita penyakit demam Tifoid selama menjalani perawatan haruslah mengikuti petunjuk diet yang dianjurkan oleh dokter untuk di konsumsi, antara lain :

1. Makanan yang cukup cairan, kalori, vitamin & protein.
2. Tidak mengandung banyak serat.
3. Tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas.
4. Makanan lunak diberikan selama istirahat.

Untuk kembali ke makanan "normal", lakukan secara bertahap bersamaan dengan mobilisasi. Misalnya hari pertama dan kedua makanan lunak, hari ke-3 makanan biasa, dan seterusnya.

# Pencegahan Penyakit Demam Tifoid

Pencegahan penyakit demam Tifoid bisa dilakukan dengan cara perbaikan higiene dan sanitasi lingkungan serta penyuluhan kesehatan. Imunisasi dengan menggunakan vaksin oral dan vaksin suntikan (antigen Vi Polysaccharida capular) telah banyak digunakan. Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Untuk anak usia 2 tahun yang masih rentan, bisa juga divaksinasi.


Baca artikel selengkapnya .......
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP