Showing posts with label Ovarium Polikista. Show all posts
Showing posts with label Ovarium Polikista. Show all posts

Thursday, November 24, 2011

Tips Praktis Mengatasi Kista Ovarium

Apa itu kista ovarium? Nah, artikel ini akan membahas tentang kista ovarium yang meliputi: definisi, etiologi (penyebab), tipe kista normal, tipe kista abnormal, manifestasi klinis, penegakan diagnosis, pemeriksaan laboratorium, dan penatalaksanaan. Selamat membaca dan memahami… .

Definisi
Kista berarti kantung yang berisi cairan. Kista ovarium (atau kista indung telur) berarti kantung berisi cairan, normalnya berukuran kecil, yang terletak di indung telur (ovarium).

Kista indung telur dapat terbentuk kapan saja, pada masa pubertas sampai menopause, juga selama masa kehamilan.

Etiologi (Penyebab)
Kista ovarium disebabkan oleh gangguan (pembentukan) hormon pada hipotalamus, hipofisis, dan ovarium.

Tipe Kista Normal
Kista Fungsional

Ini merupakan jenis kista ovarium yang paling banyak ditemukan. Kista ini berasal dari sel telur dan korpus luteum, terjadi bersamaan dengan siklus menstruasi yang normal.

Kista fungsional akan tumbuh setiap bulan dan akan pecah pada masa subur, untuk melepaskan sel telur yang pada waktunya siap dibuahi oleh sperma. Setelah pecah, kista fungsional akan menjadi kista folikuler dan akan hilang saat menstruasi.

Kista fungsional terdiri dari: kista folikel dan kista korpus luteum. Keduanya tidak mengganggu, tidak menimbulkan gejala dan dapat menghilang sendiri dalam waktu 6-8 minggu.

Tipe Kista Abnormal
Maksud kata “abnormal” disini adalah tidak normal, tidak umum, atau tidak biasanya (ada, timbul, muncul, atau terjadi). Semua tipe atau bentuk kista - selain kista fungsional - adalah kista abnormal, misalnya:
1. Cystadenoma
Merupakan kista yang berasal dari bagian luar sel indung telur. Biasanya bersifat jinak, namun dapat membesar dan dapat menimbulkan nyeri.

2. Kista coklat (endometrioma)
Merupakan endometrium yang tidak pada tempatnya. Disebut kista coklat karena berisi timbunan darah yang berwarna coklat kehitaman.

3. Kista dermoid
Merupakan kista yang yang berisi berbagai jenis bagian tubuh seperti kulit, kuku, rambut, gigi dan lemak. Kista ini dapat ditemukan di kedua bagian indung telur. Biasanya berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala.

4. Kista endometriosis
Merupakan kista yang terjadi karena ada bagian endometrium yang berada di luar rahim. Kista ini berkembang bersamaan dengan tumbuhnya lapisan endometrium setiap bulan sehingga menimbulkan nyeri hebat, terutama saat menstruasi dan infertilitas.

5. Kista hemorrhage
Merupakan kista fungsional yang disertai perdarahan sehingga menimbulkan nyeri di salah satu sisi perut bagian bawah.

6. Kista lutein
Merupakan kista yang sering terjadi saat kehamilan. Beberapa tipe kista lutein antara lain:

a. Kista granulosa lutein
Merupakan kista yang terjadi di dalam korpus luteum ovarium yang fungsional. Kista yang timbul pada permulaan kehamilan ini dapat membesar akibat dari penimbunan darah yang berlebihan saat menstruasi dan bukan akibat dari tumor. Diameternya yang mencapai 5-6 cm menyebabkan rasa tidak enak di daerah panggul. Jika pecah, akan terjadi perdarahan di rongga perut.

Pada wanita yang tidak hamil, kista ini menyebabkan menstruasi terlambat, diikuti perdarahan yang tidak teratur.

b. Kista theca lutein
Merupakan kista yang berisi cairan bening dan berwarna seperti jerami. Timbulnya kista ini berkaitan dengan tumor ovarium dan terapi hormon.

7. Kista polikistik ovarium
Merupakan kista yang terjadi karena kista tidak dapat pecah dan melepaskan sel telur secara kontinyu. Biasanya terjadi setiap bulan. Ovarium akan membesar karena bertumpuknya kista ini. Untuk kista polikistik ovarium yang menetap (persisten), operasi harus dilakukan untuk mengangkat kista tersebut agar tidak menimbulkan gangguan dan rasa sakit.

Kista ovarium ada yang bersifat jinak dan ganas (kanker). Biasanya kista yang berukuran kecil bersifat jinak. Kista ovarium sering ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan rutin.

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis kista ovarium antara lain:
1. Sering tanpa gejala.
2. Nyeri saat menstruasi.
3. Nyeri di perut bagian bawah.
4. Nyeri pada saat berhubungan badan.
5. Nyeri pada punggung terkadang menjalar sampai ke kaki.
6. Terkadang disertai nyeri saat buang air kecil dan/atau buang air besar.
7. Siklus menstruasi tidak teratur; bisa juga jumlah darah yang keluar banyak.

Adapun manifestasi klinis kanker ovarium antara lain:
1. Perubahan menstruasi.
2. Rasa sakit atau sensasi nyeri saat bersenggama (dyspareunia).
3. Gangguan pencernaan yang menetap, seperti: kembung, mual.
4. Perubahan kebiasaan buang air besar, contoh: sukar buang air besar (= sembelit, konstipasi, obstipasi)
5. Perubahan berkemih, misalnya: sering kencing.
6. Perut membesar, salah satu cirinya adalah celana terasa sesak.
7. Kehilangan selera makan atau rasa cepat kenyang (perut terasa penuh).
8. Rasa mudah capek atau rasa selalu kurang tenaga.
9. Rasa nyeri pada (tulang) punggung bawah (Low back pain).

Penegakan Diagnosis
Diagnosis kista ovarium ditegakkan melalui pemeriksaan dengan ultrasonografi atau USG (abdomen atau transvaginal), kolposkopi screening, dan pemeriksaan darah (tumor marker atau petanda tumor).

Pemeriksaan Laboratorium
Di dalam praktek, jika diperlukan dokter kandungan akan menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan sekret (yang meliputi: Trichomonas, Candida/jamur, bakteri batang, bakteri kokus, epitel, lekosit, eritrosit, epitel, dan pH) dan hematologi, misalnya: Hb (Hemoglobin).

Penatalaksanaan
1. Observasi

Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau) selama 1-2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya setelah satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas (kanker).

2. Operasi
Jika kista membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan, yakni dilakukan pengambilan kista dengan tindakan laparoskopi atau laparotomi. Biasanya untuk laparoskopi Anda diperbolehkan pulang pada hari ke-3 atau ke-4, sedangkan untuk laparotomi Anda diperbolehkan pulang pada hari ke-8 atau ke-9.

3. Terapi Herbal
Berikut ini beberapa contoh resep/ramuan tumbuhan obat untuk mengatasi kista ovarium menurut Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma:

a. 60 gram temu putih segar + 15 gram sambiloto kering atau 30 gram yang segar, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum dua kali sehari, setiap kali minum 150 cc.

b. 30 gram daun dewa segar + 50 gram temu mangga + 5 gram daging buah mahkota dewa kering, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk dua kali sehari, setiap kali minum 200 cc.

c. 60 gram benalu yang hidup di pohon teh + 30 gram rumput mutiara atau rumput lidah ular kembang putih, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk dua kali sehari, setiap kali minum 200 cc.

Catatan: rumput lidah ular kembang putih kering dapat dibeli di toko obat tionghoa dengan nama bai hua she she cao. Untuk perebusan gunakanlah periuk tanah, panci enamel, atau panci kaca. Pilihlah salah satu resep di atas, minumlah secara teratur, dan tetap berkonsultasi ke dokter untuk memantau/ mengevaluasi hasil terapi.

Sumber : http://netsains.com/2009/08/tips-praktis-mengatasi-kista-ovarium/


Baca artikel selengkapnya .......

Monday, November 21, 2011

Mengenal Kista

Kista adalah kantong cairan yang membesar dan hinggap di indung telur, namun bisa juga di kulit, paru-paru, bersiko pecah. Untungnya, pertumbuhan kista biasanya pelan. Ukuran kista bervariasi, mulai 2 cm hingga lebih dari 40 cm, dengan berat mencapai 8 kg. Kista sering ganas atau menjadi kanker pada ibu di atas usia 45 tahun.

Ada 2 jenis kista, yaitu kista non neoplastik dan kista neoplastik. Turunannya adalah:
* Kista fungsional.
Paling sering terjadi, biasanya tak berbahaya. Ukuran tidak lebih dari 5 cm, bisa mengecil sendiri dalam 1-3 bulan.
* Kista serosum.
Berisi cairan bening seperti perasan kunyit. Pembesarannya dipengaruhi siklus haid karena saat haid terjadi penambahan jumlah cairan dalam indung telur. Sering berubah menjadi kanker indung telur atau kanker ovarium, penyebab kematian nomor 2 perempuan Indonesia, setelah kanker payudara dan mulut rahim.
* Kista musinosum.
Berisi cairan lendir mirip kanji yang bila pecah membuat lengket organ perut. Selain berbahaya, juga sulit diambil.
* Kista dermois.
Cairan kista seperti mentega. Kandungannya bukan hanya cairan, tapi juga partikel lain seperti rambut, gigi, tulang atau sisa kulit. Merupakan bawaan sejak lahir dan bisa dialami pria atau wanita, bila ”meletus” selain lengket, benda-benda isi cairan bisa masuk ke perut sehingga sakit luar biasa.

Mengetahui kista.
Sebagian besar kista “hadir” tanpa gejala. Seringkali diketahui secara kebetulan saat pemeriksaan dokter.
Rasa sakit yang kuat baru terasa bila kista mengalami komplikasi seperti terpelintir atau pecah. Biasanya jika diameternya lebih dari 5 cm.

Masih bisa hamil!
Kista kecil dan jinak tidak mempengaruhi kesuburan.
Bila kista hinggap di salh satu indung telur, karena kita memiliki sepsang indung telur, masih ada satu indung telur lainnya yang sehat sehingga bisa hamil.
Kasus kista yang menyebabkan tidak bisa hamil adalah jika kista berkembang menjadi kanker indung telur. Organ reproduksi (indung telur atau rahim) harus diangkat.

Pemeriksaan dan Pengobatan.
* Kista dideteksi melalui pemeriksaan USG, riwayat penyakit (misalnya mengalami nyeri haid atau tidak), pemeriksaan fisik, laboraturium, dan bila perlu, MRI dan CT Scan.
* Pada banyak kasus, kista indung telur tidak perlu penangangan medis atau operasi, karena akan hilang sendiri.
* Kista kecil (kurang dari 5 cm), harus dipantau setiap 3 bulan sekali.
* Operasi dilakukan bila kista indung telur membesar dan menimbulkan keluhan akibat peregangan organ skeitarnya.
* Jika kista mengerah ke kanker, hasil pemeriksan tumor marker tinggi, akan dinyatakan kemungkinan kanker.
* Bila kista ditemukan pada kehamilan, waktu tepat opreasi adalah di usia kehamilan 4- bulan, manakalan plasenta sudah terbentuk sehingga berisiko keguguran kecil.
* Tingkat kesembuhan tergantung jenis kista. Kista neoplastik jinak bisa disembuhkan. Tetapi kista ganas belum pernah dinyatakan sembuh total karena selalu ada kemungkinan kambuh.

Sumber : http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Gizi+dan+Kesehatan/mengenal.kista/001/001/1009/1/4


Baca artikel selengkapnya .......

Monday, November 14, 2011

Sindroma Ovarium Polikistik, Penyebab Gangguan Haid

Pertanyaan yang masuk kedalam blog ini rata2 menanyakan gangguan haid yang terjadi, dan kebimbangan apakah kelak bisa hamil.
Sebenarnya apa sih yang menyebabkan haid menjadi terganggu? tidak dalam siklus yang normal?
Postingan tentang fisiologi haid mungkin yang memicu pertanyaan itu.
Nah, sekarang mari kita sedikit mengulas tentang Sindroma Ovarium Polikistik, si penyebab gangguan haid.

Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) merupakan kelainan endokrinopati yang paling banyak dijumpai pada wanita usia reproduksi.

Sindrom ini ditandai dengan kumpulan beberapa gejala seperti gangguan haid, gangguan ovulasi, hiper androgenism dan gambaran ovarium polikistik.

Kurang lebih 60-70% wanita dengan berat badan lebih, dan 40-50% wanita dengan berat badan normal dapat menunjukkan gejala seperti tersebut diatas.
Tentu saja hal ini menjadi terkait erat dengan kondisi infertilitas (gangguan kesuburan), terutama yang terkait dengan siklus yang tidak berovulasi.

Sindrom ini juga memiliki kaitan erat dengan kondisi resistensi insulin.
Tatalaksana SOPK dengan masalah gangguan kesuburan pertama adalah memperbaiki gaya hidup seperti berolahraga teratur, menciptakan berat badan yang ideal dan menjaga pola makan, kedua adalah menggunakan obat-obatan pemicu kesuburan dan yang ketiga jika memang terdapat resistensi insulin dapat diberikan obat yang dapat meningkatkan sensitivitas insulin.

Tindakan operatif “drilling” ovarium dengan laparoskopi atau pembuatan bayi tabung merupakan upaya terakhir jika cara pengobatan lainnya tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Diagnosis Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK)
Gejala yang sering dikeluhkan penderita SOPK antara lain adalah siklus haid yang sering terlambat atau tidak datang haid untuk waktu yang lama. Disamping itu terdapat pula gejala lain yang terkait dengan hiperandrogenism seperti wajah yang mudah berjerawat atau tumbuh rambut yang berlebihan pada tempat-tempat yang khas untuk pria, misal kumis, janggut, jambang, dada, perut, punggung dan sebagainya.

Sindrom Ovarium Polikistik dengan gangguan kesuburan
Kondisi gangguan ovulasi menyebabkan SOPK menjadi salah satu penyebab dari gangguan kesuburan. Kondisi oligo/anovulasi dapat dikenali dari adanya perubahan siklus haid. Jika siklus haid yang normal adalah berkisar antara 21-35 hari, maka perubahan siklus haid yang pada awalnya dikeluhkan oleh penderita SOPK ini adalah siklus haid yang jarang (melebihi 35 hari) atau bahkan tidak mendapat haid lebih daripada 3 bulan. Jika kondisi ini telah terjadi menahun maka keluhan gangguan haid lain yang akan dikeluhkan adalah adanya siklus haid yang ireguler atau tidak teratur. Haid menjadi lama, kadang hanya bercak-bercak darah saja, dan kadang menjadi banyak .

Kegemukan, resistensi insulin dan gangguan kesuburan
SOPK sering dikaitkan dengan adanya timbunan lemak tubuh yang berlebihan terutama di dalam rongga perut. Pasien yang memilki indeks massa tubuh (IMT) lebih besar dari pada 25 kg/m2 atau lingkar perut yang lebih besar dari pada 80 cm akan sangat berisiko untuk memiliki kelainan SOPK ini.

Timbunan lemak yang berlebihan terutama di dalam rongga perut akan menimbulkan perubahan keseimbangan zat-zat kimiawi tertentu yang dapat mengakibatkan menurunnya sensitivitas insulin. Kadar insulin menjadi lebih tinggi daripada normal. Kondisi hiperinsulin ini disebut dengan istilah resistensi insulin. Berdasarkan kriteria yang diteliti oleh dr. Muharam dan rekan, maka kondisi resistensi insulin dapat ditegakkan jika dijumpai kadar insulin puasa lebih daripada 10.1 ui/ml atau jika dijumpai nisbah glukosa puasa terhadap insulin puasa kurang daripada 10 ui/ml.
Berdasarkan beberapa penelitian yang ada, ternyata kondisi resistensi insulin hanya dijumpai pada penderita obesitas saja. Namun telah banyak dibuktikan bahwa penderita SOPK dengan berat badan normal pun dapat menunjukkan gejala resistensi insulin. Kondisi resistensi insulin pada penderita SOPK dengan berat badan normal (langsing) terkait erat dengan lingkar pinggang lebih daripada 80 cm atau karena faktor genetika.

Kondisi resistensi insulin dapat dicurigai jika dijumpai gejala klinis seperti IMT>25 kg/m2, lingkar perut>80 cm, lipatan sub-skapula>50 mm, dan akantosis nigrikans pco1

Penanganan gangguan kesuburan
1. Penurunan berat badan dan perubahan gaya hidup

Jika penderita SOPK memiliki IMT yang lebih dari pada 25 kg/m2 maka pilihan terapi utama untuk mengatasi gangguan kesuburan adalah menurunkan berat badan. Penurunan berat badan dapat memperbaiki resistensi insulin dan juga sekaligus dapat mengatasi masalah ovulasi pada SOPK dengan masalah kelebihan berat badan. Prinsip tatalaksana ini adalah memperbaiki gaya hidup. Olah raga teratur, mengurangi asupan kalori yang berlebih, sehingga tercapai berat badan tertentu.

Penurunan berat badan sebesar 5% dapat memperbaiki resistensi insulin dan sekaligus dapat meningkatkan kejadian ovulasi sebesar 50%. Penurunan berat badan sebanyak 5% sudah cukup untuk memperbaiki siklus menstruasi sebesar 80%. Disamping itu penurunan berat badan sebesar 5-10% saja sudah dapat melindungi penderita SOPK dengan resistensi insulin terhadap tipe2 diabetes melitus dan dislipidemia.

Program penurunan berat badan bagi pasien dengan indeks masa tubuh (IMT) antara 27-30 kg/m2 merupakan hal yang sangat penting bagi penderita SOPK. Pengurangan kalori antara 300-500 kalori per hari dapat menurunkan berat badan sebanyak 10% dalam 6 bulan. Bagi penderita SOPK dengan IMT >35 kg/m2, pengurangan kalori sebanyak 500-1000 kalori per hari dapat menurunkan berat badan 500-1000 gram per minggu.
Diet rendah lemak dan gula serta banyak makan sayuran sangat dianjurkan bagi pasien dengan berat badan berlebih atau obesitas.

Olahraga aerobik teratur seperti berjalan kali selama 30 menit per hari dapat bermanfaat untuk menurunkan berat badan. Kegiatan lain seperti yoga, relaksasi, meditasi dan sebagainya dapat dimanfaatkan untuk menurunkan kadar gula darah puasa dan kadar kolesterol.

2. Induksi ovulasi
Terdapat beberapa cara untuk induksi ovulasi. Secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu terapi lini pertama dan terapi lini kedua.
Terapi lini pertama adalah penggunaan obat-obatan, dan obat induksi ovulasi yang terkenal untuk SOPK adalah klomifen sitrat.
Jika terdapat kegagalan klomifen sitrat menghasilkan ovulasi maka perlu diperhatikan kemungkinan adanya resistensi insulin.

Terapi kombinasi antara klomifen sitrat dengan obat yang dapat meningkatkan sensitivitas insulin seperti metformin atau actos® dilaporkan mampu memperbaiki kemampuan ovulasi.
Jika pengobatan lini pertama gagal, maka pilihan berikutnya adalah terapi lini kedua yaitu “drilling” ovarium dengan laparoskopi atau langsung ke program bayi tabung.

Sumber :
Andon Hestiantoro, dr, SpOG, KFER
Divisi Imunoendokrinologi Reproduksi, Departemen Obstetri dan Ginekologi,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS. dr. Cipto Mangunkusumo, JAKARTA
http://botefilia.com/index.php/archives/2009/04/10/sindroma-ovarium-polikistik-penyebab-gangguan-haid/


Baca artikel selengkapnya .......

Tuesday, November 8, 2011

Sindroma Ovarium Polikista

Sindroma Ovarium Polikista (Sindroma Stein-Leventhal) adalah suatu penyakit dimana ovarium (indung telur) membesar dan mengandung banyak kantong yang berisi cairan (kista); kadar hormon pria (androgen) bisa tinggi sehingga kadang menyebabkan maskulinisasi.

Pada sindroma ini kelenjar hipofisa biasanya melepaskan sejumlah besar LH (luteinizing hormone).

LH yang berlebihan menyebabkan peningkatan pembentukan androgen dan kadar androgen yang tinggi ini kadang menyebabkan timbulnya jerawat dan rambut yang kasar.

Jika tidak diobati, sebagian androgen bisa diubah menjadi estrogen dan kadar estrogen yang tinggi bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker lapisan rahim (kanker endometrium).

PENYEBAB

Penyebabnya belum sepenuhnya dimengerti, tetapi beberapa teori menyebutkan adanya gangguan dalam pembentukan estrogen dan dalam mekanisme umpan baik ovarium-hipotalamus.

Fungsi ovarium yang normal tergantung kepada sejumlah hormon dan kegagalan pembentukan salah satu hormon tersebut bisa mempengaruhi fungsi ovarium.

Ovarium tidak akan berfungsi secara normal jika tubuh wanita tidak menghasilkan hormon hipofisa dalam jumlah yang tepat.

Fungsi ovarium yang abnormal kadang menyebabkan penimbunan folikel yang terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium.

Folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel telur, karena itu terbentuk kista di dalam ovarium dan menyebabkan kemandulan pada wanita.

Ovaium polikista memiliki ukuran 2-5 kali lebih besar daripada ovarium yang normal serta memiliki lapisan luar yang putih, tebal dan sangat kuat.

Sindroma ini biasanya muncul segera setelah pubertas.

Penderita seringkali memiliki ibu atau saudara perempuan yang juga menderita sindroma ovarium polikista.

GEJALA

Gejala biasanya muncul pada masa pubertas, yaitu berupa:
* Obesitas
* Hirsutisme (pertumbuhan rambut berlebih yang mengikuti pola pria, misalnya rambut tumbuh di dada dan wajah)
* Oligomenore (menstruasi abnormal, tidak teratur dan sedikit)
* Amenore
* Kemandulan
* Payudara mengecilecreased breast size
* Jerawat
* Virilisasi (maskulinisasi, tanda-tanda kejantanan).

DIAGNOSA

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik (pemeriksaan panggul).

Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
* Kadar LH dan FSH (rasio LH dan FSH biasanya meningkat)
* USG vagina
* Laparoskopi
* Biopsi ovarium
* Kadar androgen, estrogen.

PENGOBATAN

Pengobatan tergantung kepada jenis dan beratnya gejala, usia penderita dan rencana kehamilan.

Jika tidak terjadi hirsutisme, bisa diberikan progentin sintetis atau pil KB. Tetapi kedua obat tersebut tidak diberikan jika penderita ingin hamil, telah memasuki masa menopause atau memiliki resiko tinggi terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah.

Progestin sintetis juga diberikan untuk mengurangi resiko kanker endometrium akibat tingginya kadar estrogen.

Untuk mengurangi pertumbuhan rambut yang berlebihan bisa dilakukan pencukuran dengan elektrolisis, pencabutan, pemakaian lilin atau cairan maupun krim perontok rambut (depilatori).

Pertumbuhan rambut berlebih juga bisa diatasi dengan spironolakton (obat yang menghambat pembentukan dan aksi hormon pria).

Efek samping dari spironolakton adalah peningkatan pembentukan air kemih, tekanan darah rendah, nyeri dada dan perdarahan vagina yang tidak teratur.

Spironolactone juga bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan janin, karena itu penderita yang mendapatkan spironolakton sebaiknya menggunakan alat kontrasepsi.

Jika penderita masih ingin hamil, bisa diberikan clomifene (obat yang merangsang pelepasan sel telur oleh ovarium).

Jika clomifene tidak efektif, bisa diberikan sejumlah hormon (misalnya FSH atau GnRH).

Jika pemberian obat-obatan tidak efektif, penderita bisa menjalani pembedahan untuk mengangkat sebagian ovarium (reseksi baji) atau kauterisasi kista (menghancurkan kista dengan arus listrik).

Pembedahan bisa merangsang pelepasan sel telur tetapi biasanya merupakan pilihan terakhir karena bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut dan mengurangi kemampuan penderita untuk hamil.

Sumber : http://kesehatanwanita.blog.com/


Baca artikel selengkapnya .......
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP